PERAN MORAL DI DUNIA EKONOMI


Diantara sisi-sisi positif yang dimiliki sistem ekonomi konvensional, ada celah negatif yang dimarginalkan oleh para pelaku ekonomi. Munculnya ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan masyarakat merupakan akibat dari terabaikannya aspek moralitas pada setiap kegiatan ekonomi.

Dari sini moralitas memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan pembangunan manusia seutuhnya.

Dalam mempertahankan hidupnya manusia diberi kebebasan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.  Kebebasan merupakan unsur dasar dalam mengatur dirinya dalam memenuhi kebutuhan yang ada. Segala upaya akan dilakukan untuk sekedar mampu memenuhi segala kebutuhan hidup dan sebisa mungkin menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dari sedikit usaha yang dilakukan. Jika tidak dibatasi, kebebasan ini akan membawa manusia kedalam pola hidup yang transaksional terhadap sesamanya. Karena, kebaikan yang dilakukan seorang penjual terhadap pembelinya, demikian pula sebaliknya, seorang pembeli akan bersikap manis kepada penjual bukan karena unsur kemanusiaan untuk dapat saling membantu antara satu dengan yang lain, melainkan semata-mata faktor konsistensi usaha penjual tergantung dari konsistensi pembeli untuk memenuhi usaha penjualan. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir segala bentuk kerugian. Takaran untung-rugi semacam ini akan menjadikan perilaku mekanistik, segala sesuatu diatur oleh pola produksi yang berlangsung, sehingga nilai-nilai kemanusiaan tereduksi oleh dominasi nilai materi.[1] Bila keadaan ini mulai menggejala, maka ukuran-ukuran ketentraman, kesejahteraan dan kebahagiaan secara umum didasarkan atas definisi ukuran produksi, bukan didasarkan pada pemenuhan unsur-unsur kemanusiaan.

Islam sangat menggantungkan kepentingan bangunan ekonomi pada sisi kemanusiaan. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi perindustrian dan peningkatan nilai-nilai produksi tidak akan berarti apa-apa, bahkan mungkin akan menjadi “mesin penghancur” tatanan kehidupan masyarakat, jika tidak diimbangi dengan peningkatan mutu dan kwalitas manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika yang Islami. Oleh karenanya, tak jarang Islam melarang praktek-praktek tertentu yang sepintas nampaknya membawa manfaat dan keuntungan, namun hakikatnya tersimpan beragam resiko yang merugikan, bahkan sampai mengancam keutuhan akidah yang dipegangnya.

Jika orang-orang kapitalis demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dapat menggunakan segala cara asal dapat mencapai tujuannya,[2] seorang muslim akan senantiasa terikat oleh berbagai aturan main dan batas-batas moral serta etika yang di gariskan syariat.

MENGAPA ISLAM MENGKOMBINASIKAN EKONOMI DAN MORALITAS

Satu hal yang mendasari mengapa Islam selalu mengaitkan pentingnya peran moral dan etika dalam setiap aktivitas hidup manusia, termasuk kegiatan-kegiatan ekonomi, yaitu Islam adalah Risalah Akhlaqiyah.[3] Dalam Islam, etika, moral, akhlak adalah inti dalam segala hal. Itulah sebabnya misi utama risalah Islamiyyah yang dibawa Rasulullah Sallawallahu Alihi Wa sallam adalah menyempurnakan akhlak yang mulia انما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق  .

Akhlak adalah hal yang sangat urgen dalam kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu tak ada celah dalam tiap sendi kehidupan manusia, dalam tataran personal maupun komunal, individu ataupun sosial demikian juga pada aspek ibadah maupun mu’amalah yang terlepas dari kendali akhlak.

Banyak diantara para pengkaji yang telah dengan jujur mengakui dan memuji keistimewaan ini. Seorang penulis Perancis misalnya, dalam bukunya yang telah dialih bahasakan oleh Dr. Nabil Ath Thowil menyatakan:

Islam adalah perpaduan sistem hidup yang implementatif dan nilai moral yang saling terkait erat dan tidak akan pernah terpisah selamanya.[4]

Dalam bidang ekonomi, moralitas ini akan mampu memberi makna baru pada pemahaman sebuah nilai dan memenuhi kekosongan pemikiran yang muncul dari konsekuensi mekanisme industri.[5]

Antara nilai moral dan segala bentuk kegiatan ekonomi tidak akan mengakibatkan benturan-benturan yang dapat melemahkan satu dengan yang lain. Justru karena Islam menjadikan hal-hal yang bersifat material dan spiritual, immanen dan transenden dalam tataran yang sama, akan terpenuhi segala kebutuhan dan hajat hidup manusia sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat luas. Manusia akan menemukan fitrah kemanusiaannya apabila ia telah mampu memenuhi kebutuhan lahir dan batin bagi dirinya, keluarga dan memanusiakan manausia dalam komunitas sosialnya.

Pengalaman kapitalis telah membuktikan, sistem yang selama ini begitu diagung-agungkan, dan menjadi kiblat berbagai negara di dunia, ternyata tidak mampu memberi ketentraman dan kesejahteraan bagi tiap individu dan masyarakat lewat konsep ekonomi yang ditawarkan. Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sementara di sekeliling mereka masih banyak yang harus rela menerima “kekalahan” terhimpit beban hidup tanpa peluang untuk membebaskannya. Keberadaan mereka tidak lagi mendapat tempat di hati masyarakat kapitalis yang materialistis. Kebebasan yang merupakan prinsip dasar kehidupan manusia telah di monopoli oleh mereka yang kuat sementara yang lemah tak pernah bisa mengerti apalagi merasakan arti sebuah kebebasan.

PERAN MORAL DALAM BIDANG EKONOMI

Harta dan kekayaan merupakan unsur penting yang turut menunjang lahirnya kekuatan besar suatu kelompok masyarakat, komponen utama bagi kebangkitan dan kemajuannya.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki dan ditunjang sumber daya manusia yang memadai, suatu kelompok sosial, masyarakat atau negara, akan berkembang dengan pesat, tumbuh dalam dirinya suatu kepercayaan diri yang mantap dan dalam kiprahnya di dunia internasional ia akan mendapatkan posisi yang terhormat.

Di sisi lain harta kekayaan akan menjadi ancaman yang serius bagi kehidupan moral maupun spiritual tiap-tiap individu dan masyarakat apabila hal itu menjadi prioritas utama tujuan hidup sehingga segala cara ditempuh untuk meraih keuntungan dan berlomba-lomba saling menumpuk kekayaan tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya.

Islam tidak menafikan profit oriented suatu usaha. Akan tetapi tetap harus memperhatikan aturan main dan tata nilai normatif dalam menggeluti suatu bidang usaha. Bagaimana seseorang bisa berperan aktif dalam program peningkatan kesejahteraan umum dan menorehkan citra yang baik bagi kelangsungan hidup manusia lebih diutamakan dari pada sekedar keuntungan yang bersifat materi.

Dengan dasar keyakinan yang kuat bahwa rizki adalah amanah dan keberhasilan suatu usaha datangnya dari Allah dan kelak   pada akhirnya akan diminta pertanggungjawaban di hadapanNya, seseorang akan mempertimbangkan baik buruknya suatu hasil usaha bagi kehidupan diri sendiri, keluarga dan masyarakatnya. Menghindari jenis-jenis usaha yang dapat merusak fisik, mental dan spiritual.

Islam memandang aspek ekonomi dan semua kegiatan yang turut menunjang perkembangan dan kemajuannya sebagai suatu kebutuhan manusia itu sendiri, sebuah sarana bagaimana seseorang tetap dapat mempertahankan hidup, beramal demi tujuan yang utama, mewujudkan pengabdian kepada agama dan keyakinan yang dipegang teguhnya. Pendeknya, ekonomi bukanlah substansi melainkan hanya watsilah lil gyoyah. Harta adalah rizki yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Karenanya, dalam proses mendapatkan kemudian membelanjakannya harus tetap sesuai dengan garis-garis ketentuan Allah, Dzat yang memiliki segalanya.

Kalau mungkin sistem-sistem lain begitu mengutamakan pembangunan ekonomi, peningkatan produksi dan daya beli masyarakat yang berkonsekuensi pada munculnya kompetisi-kompetisi liar tanpa mempedulikan batas-batas norma kemanusiaan dan keadilan, Islam lebih menekankan pada pembangunan keimanan dan moralitas para pelaku ekonomi.

Andaikata dalam dunia ekonomi moralitas dianggap sebuah penghalang dalam meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dan merupakan hambatan yang harus disingkirkan bagi kemajuan dan perkembangannya, ini berarti sama halnya dengan mengkondisikan dunia dan manusia pada keadaan dimana hati nurani dan perasaan telah dibekukan sedemikian rupa sehingga yang kuat menggilas yang lemah dan yang kecil menjadi mangsa bagi mereka yang besar. Manusia akan semakin menjauh dari fitrahnya. Kehidupan akan diselimuti persaingan-persaingan membabi buta, saling menghancurkan satu sama lain berlomba-lomba untuk menjadi yang terkuat.

Disinilah moralitas, akhlak dan etika memegang peranan penting agar manusia tetap pada eksistensinya sebagai manusia. Dimana satu dengan yang lain dapat saling mengisi dan melengkapi. Yang kuat memandang yang lemah sebagai pihak yang membutuhkan uluran tangan untuk tetap dapat menikmati kehidupannya, dan yang lemahpun melihat yang kuat sebagi pihak yang dapat mengayomi dan melindungi. Antara penjual dan pembeli terjalin suatu kemitraan yang saling menguntungkan, bukan sekedar prinsip kebutuhan temporal.

ETIKA BISNIS

Terciptnya kesejahteraan masyarakat dengan terpenuhinya semua kebutuhan hidup bagi tiap-tiap individu sangat di pengaruhi oleh meknisme pasar dimana antara permintaan dan penawaran berada pada titik yang seimbang. Dalam hal ini dibutuhkan keterlibatan semua pihak, produsen dan konsumen, penjual dan pembeli dan termasuk juga pemerintah yang dengan otoritasnya mampu menyamakan persepsi tentang keberadaan harga dan stabilitas pasar.

Ketidakstabilan harga sebab perilaku nakal para pelaku pasar yang merusak mekanismenya, misalnya dengan praktek spekulasi, manipulasi, penimbunan, pembajakan, pasar gelap dan sejenisnya akan berdampak pada ketidak-nyamanan produsen dalam berproduksi, penjual terancam kerugian dan konsumen akan kesulitan mendapat kepuasan atas barang yang dikonsumsinya.

Disini peran serta dan tanggung jawab masing-masing pihak sangat menentukan. Artinya produsen, konsumen, penjual dan pembeli berada pada posisi dimana yang satu tidak merugikan yang lain. Sedapat mungkin saling membantu, tolong menolong dalam mengemban amanah social yang berada di pundak mereka. Singkatnya keterikatan masing-masing pihak terhadap norma dan etika bisnis yang sesuai dengan ketentuan syariat menjadi faktor utama terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Beberapa prinsip utama dalam kaitannya dengan etika bisnis ini antara lain:

  1. 1. LARANGAN BISNIS PADA MUHARRAMAT

Pertama kali yang harus senantiasa diperhatikan oleh setiap pebisnis adalah apakah bidang yang di gelutinya sudah mendapat legitimasi kehalalan dari syara’? Dalam arti usaha tersebut bebas dari muharramat dan I’anah alal ma’shiyat. Karena betapapun visibilitas suatu usaha sangat menjanjikan dilihat dari kaca mata bisnis, akan tetapi dalam perspektif syari’at terdapat penilaian lain terhadap kelayakan suatu usaha. Mengapa? Semua kembali pada persoalan awal yaitu keterikatan setiap pribadi muslim dengan nilai moral, etika dan segala macam norma yang mengidentifikasikan pebisnis muslim dan “non-muslim” dalam kapasitasnya sebagai seorang hamba dari Khaliqnya dan tanggung jawab social terhadap sesamanya. Tanggung jawab ini terpresentasikan dalam pesan syari’at لا ضرر ولا ضرار.

Suatu usaha dinilai tidak layak jika ia berseberangan dengan garis ketentuan syara’ yang mana di dalamnya terkandung begitu banyak hikmah dan manfaat bagi kemaslahatan hidup manusia. Ketidak layakan itu bisa terjadi karena memang nash mengatakannya haram, semisal bisnis minuman keras, obat-obatan terlarang, perjudian dan lain sebagainya, atau bisa saja karena ada unsure I’anah alal ma’shiyat yang berpotensi besar menimbulkan kerusakan bagi kehidupan masyarakat, seperti industri hiburan yang membuka peluang ajang kemaksiatan atau usaha yang bergerak pada bidang informasi dan mass media yang di sinyalir paling efektif membawa perubahan gaya hidup dan pemikiran masyarakat yang sedang bergerak ke arah perubahan.

  1. KEJUJURAN dan KEPERCAYAAN

Dalam sebuah Hadits di sebutkan:

التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء , رواه الترمذى

Pedagang yang jujur terpercaya (nanti akan berkumpul) bersama para Nabi, Shiddiqin dan para pahlawan syahid” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaannya mengapa harus pedagang (businesmen)? Kenapa bukan dokter, teknokrat, menteri, ulama, kyai atau yang lain?  Karena menjadi sosok pebisnis yang jujur adalah sebuah pertaruhan. Sebesar apa keuntungan yang akan di dapat akan banyak dipengaruhi oleh bagaimana ia memaksimalisasi laba dengan modal yang seminim mungkin dan hal ini akan memicu seseorang untuk berbuat tidak fair dalam permainan bisnisnya. Disana terbuka peluang lebar melakukan segala macam manipulasi mengingat posisinya yang bebas dari intervensi dan kontrol social.

Seorang pebisnis yang jujut hanya bisa terbentuk dari dalam pribadi yang peka terhadap pesan-pesan agama dan senantiasa melandasi gerak aktivitasnya dengan iman dan kepercayaan penuh kepada Dzat sang pengatur segalanya.

Bagaimanpun bisnis adalah lahan yang rentan terhadap penipuan dan kebohongan. Bahkan tak segan-segan seseorang harus bersumpah atas nama Allah untuk tujuan meraih keuntungan yang tidak seberapa. Jika hal ini dilakukan maka akibatnya akan merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain.

Kerugian bagi dirinya sendiri adalah karena secara tidak langsung ia telah “mengkomersilkan” asma Allah yang suci demi kepentingan duniawi lewat kebohongan dan sumpah palsunya yang dapat mengancam keselamatan dirinya di akhirat kelak. Untuk kebenaran saja syara’ sangat menekankan agar berhati-hati dan tidak sembrono dalam menggunakan sumpah, apalagi untuk kebohongan dan penipuan.

Sementara itu kerugian bagi pihak lain akibat ulah yang dilakukannya tersebut sudah sangat jelas yaitu perasaan kecewa dan ketidak-puasan atas barang yang di terima sebab tidak sesuai dengan harapan dan permintaan. Lebih fatal lagi, pebisnis semacam ini tidak akan lagi mendapt kepercayaan publik yang berimbas pada suramnya prospek kedepan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Selanjutnya yang terkait erat dengan prinsip kejujuran ini adalah bagaimana seorang pebisnis tetap dapat mempertahankan kepercayaan yang di berikan kepadanya. Sedikit saja dia menyalah gunakan kepercayaan itu akan berkonsekuensi hilangnya peluang untuk masa yang akan datang atau membuat kekaburan prospek ke depan.

Dari kedua prinsip etika tersebut (kejujuran dan kepercayaan) bisa menelorkan beberapa nilai yang lebih terperinci. Seperti mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain, tidak bersikap curang, menghindari praktek spekulasi, penimbunan dan lain sebagainya.

  1. KEADILAN dan KEKELUARGAAN

Termasuk prinsip utama dunia bisnis yang telah ditetapkan Islam adalah bagaimana terbentuk sebuah interaksi yang bersifat kekeluargaan dan penuh keadilan. Sebagaimana dimaklumi Islam adalah agama anti kesewenang-wenangan dan kedhaliman. Pada aspek ekonomi dan kegiatan bisnis pada khususnya, keadilan ini dimaksudkan agar masing-masing pihak mendapatkan hak-haknya secara penuh. Seorang pebisnis harus mempunyai kontrol yang tinggi agar tidak terjebak dalam perilaku tabassuth kullal basthi hingga akhirnya hanya kerugian yang didapatkan. Karena pada dasarnya yang dikehendaki dari prinsip Al Ihsan, Al Samahah dan Al Rahmah dalam Islam adalah bagaimana kita membudayakan sikap altruism dalam tiap sendi kehidupan tanpa harus mengorbankan kemaslahatan diri sendiri.

Prinsip ini mengindikasikan bahwa seorang pebisnis tidak akan melepas suatu komoditi ke pasaran dengan harga yang tidak sepadan atau mungkin bahkan jauh di bawah besar biaya yang ia keluarkan. Karena dengan demikian ia telah mengorbankan diri sendiri untuk tujuan yang tidak pasti dan yang jelas ia akan menderita kerugian akibat deficit terhadap pendapatannya.

Dan sebaliknya, sebagai balance-nya, dia juga tidak akan mematok harga terlampau tinggi di atas harga pasar agar mendapat keuntungan yang berlipat ganda meskipun pada kondisi di mana konsumen sangat membutuhkan sementara stok barang terbatas atau mungkin hanya factor tuntutan selera sehingga berapapun harga ditawarkan akan di terima tanpa keberatan.[6]

Disisi lain prinsip keadilan ini mencakup beberapa hal yang sangat urgen yang justru kerapkali diabaikan oleh para pelaku pasar. Diantaranya adalah:

–          keadilan dalam kesempurnaan takaran /timbangan[7]dan transparansi kwalitas barang.[8]

–          Keadilan dalam memenuhi tanggungan (pembayaran hutang).[9]

–          Keadilan dalam stabilisasi harga.[10]

Apabila prinsip keadilan ini berhasil di wujudkan, akan menimbulkan reaksi positif dari berbagai pihak sehingga tercipta interaksi pasar yang terbingkai rasa persaudaraan dan kekeluargaan di mana yang besar membantu yang kacil dan yang kuat menaungi yang lemah. Pada konteks ini syara’ telah dengan tegas mengharamkan praktek talaqi al rukban[11] dan najsy,[12] karena di dalamnya terkandung tindak kedhaliman serta jauh dari sikap rahmah dan samahah yang menjadi identitas dan karakteristik Al Risalah Al Muhammadiyyah.

MODAL SUKSES

Suksesi terbesar seorang pebisnis tidak sekedar didasarkan pada perolehan keuntungan yang didapat atau perkembangan dan kemajuan usahanya. Peningkatan laba usaha dari tahun ke tahun bisa dikatakan hanya kesuksesan semu dan sementara. Karena dengan berakhirnya kehidupan di dunia berarti berakhir pula karir yang telah dirintis sekian waktu dengan segala upaya dan kerja kerasnya. Dengan begitu, hilang juga kesempatan untuk menikmati keberhasilan usaha dan buah kesuksesannya.

Suksesi terbesar bagi seorang pebisnis, yang bisa dikatakan, ia telah berada di puncak karir adalah manakala ia telah mampu meraih keuntungan yang bersifat abadiyyah,  keuntungan nikmat akhirat yang jelas lebih baik dari pada keuntungan material di dunia.

Keuntungan abadi ini bisa di peroleh apabila program usaha sesuai dengan mekanisme syariat,[13] yaitu:

  1. Meluruskan Niat

Dalam berbisnis hendaknya berniat mencukupi kebutuhan hidup bagi diri sendir dan keluarga sehingga terhindar dari meminta-minta, mencegah perasaan tamak atas nikmat orang lain dan merasa cukup dengan hasil jerih payah sendiri, niat membantu tetap tegaknya agama dan berbuat kebajikan kepada sesama manusia.

  1. Bertujuan Menunaikan Fardlu Kifayah

Variasi usaha sangat di butuhkan agar kebutuhan hidup manusia dapat tercukupi. Seandainya semua orang di dunia ini hanya menggeluti satu bidang usaha tertentu, maka roda perekonomian akan “mandek”, yang akibatnya akan membawa kehancuran dunia sebagai akibat tidak terpenuhinya kebutuhan hidup manusia.

Karena itu mencari terobosan baru dalam dunia usaha yang hasilnya dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas adalah sebuah fardlu kifayah.

  1. Memprioritaskan “Pasar Akhirat”

Pasar akhirat adalah masjid. Artinya kegiatan bisnis yang di lakukan sehari-hari jangan samapai membuat lupa akan kewajiban beribadah dan senantiasa mengingat Allah.[14]

Mengingat Allah tidak hanya sebatas mengingat nama dan kebesanNya. Lebih dari itu yang lebih penting adalah selalu menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi segala gerak dan aktivitas manusia. Dengan demikian seorang pebisnis tidak akan melanggar keharaman dan melampaui batas-batas ketentuan syariatNya.

  1. Qona’ah

Dalam sebuah riwayat Abdullah Ibn ‘Amr Ibn ‘Ash berkata: “janganlah engkau menjadi orang pertama yang memasuki pasar dan orang terakhir yang keluar darinya…….”.[15]

Riwayat ini memberi pengertian bahwa seseorang tidak boleh terlampau berambisi untuk mencari kekayaan sehingga keuntungan yang besar menjadi obsesi utama tujuan hidup sementara urusan akhirat nyaris terlupakan karena kesibukan bisnisnya, yang di gambarkan dengan “kedisiplinan” di pasar sebagai pusat transaksi.

Dengan memelihara sifat qana’ah dia akan selalu merasa bersyukur atas hasil yang di dapatkan. Meskipun suatu ketika ia menderita kerugian di dunia karena factor-faktor tertentu yang menghambat kegiatan bisnisnya namun jelas dia akan mendapat keuntungan sebenar-benar keuntungan di akhirat kelak.

  1. Mewaspadai Syubuhat

Dalam beberapa prinsip etika sebagaimana  di singgung di atas, yang utama adalah bahwa bidang usaha yang digeluti benar-benar jauh dari muharramat. Lebih dari itu, waspada terhadap syubuhat yang seringkali terbungkus oleh klaim “syar’i”   menjadi hal yang sangat perlu di perhatikan. Meski ditengah kesimpang-siuran fatwa berbagai lembaga kajian hokum-hukum Islam, seorang pebisnis yang konsis memegang syari’at tidak akan mudah terpancing dengan munculnya kamuflase-kamuflase yang di buat orang-orang yang tidak menginginkan Islam tetap pada garis yang semestinya. Dengan menjungkir-balikkan fakta dan mereinterpresi dalil sesuai keinginan mereka (musuh-musuh Islam), umat Islam “dipaksa” untuk menerima hasil reinterpretasi tersebut dan menjustifikasi keabsahaannya sebagai landasan muamalah yang dengan berbagai upaya berusaha menampilkan wajah kebenaran yang hakiki.

Di samping itu yang masuk dalam kategori syubuhat di sini adalah peran yang dimainkan seorang pebisnis dibalik ikatan kerjasama atau perserikatan dengan pihak-pihak yang tidak jelas misi dan mekanisme kerjanya. Harus ada garis demarkasi yang jelas antara pihak yang bisa untuk kerjasama dan pihak-pihak yang semestinya di kesampingkan.


[1] Abul A’la  Al maududi, Usulul Iqtishad bainal-Islam wan Nudhum Al Mu’ashirah, Darul Urubah, Lahore.

[2] Dalam sistem kapitalis, karena faktor kebebasan dan supaya seseorang tidak tersingkir dari pasar, orang akan didorong untuk berpikir oportunis dan materialistis dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi sehingga tidak peduli apakah usahanya sesuai dengan moral atau tidak. Lihat, Heri sudarsono, Konsep Ekonomi Islam Sebuah Pengantar. Ekonisia-Yogyakarta (2002).

[3] Dr. Yusuf Al Qordlowi, Daurul Qiyam wa Al Akhlaq fi Al Iqtishad Al Islami, Hal. 61, Maktabah Wahbah-Kairo (1995).

[4] Dr. Nabil Ath Thowil, Al Islam wat Tanmiyah Al Iqtishadiyyah

[5] Dr. Yusuf Al Qordlowi (1995). Op Cit.

[6] . Al Ghozali, Ihya’ Ulumuddin kitabAl Kasbu wal Ma’asy

[7] . QS. Al ‘An Aam: 152, A Isro’: 35

[8] . QS. Hud: 85

[9] . لي الواجد يحل عرضه وعقوبته, رواه الجماعة

[10] . Apabila pasar dalam keadaan kondusif, tidak ada pihak yang boleh mengintervensi masalah harga. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits bahwa Rasulullah enggan memenuhi permintaan beberapa sahabat yang menuntut standararisasi harga pasar.

[11] . Talaqi Al Rukban adalah istilah yang digunakan para fukaha untuk praktek perdagangan dengan memapak orang-orang desa yang ingin menjual barang dagangan ke kota sebelum mereka sampai di kota/pasar dengan tujuan mengelabui mereka akan harga pasar sehingga mereka bersedia menjual dengan harga di bawah harga pasar. Istilah ini di gunakan dengan dasar Hadits “ لا تتلقوا الركبان………(الجديث) متفق عليه “

[12] . Najy (Banjet-jawa) adalah tindakan pihak ketiga, di hadapan penjual dan pembeli, untuk mempengaruhi seorang pembeli agar menaikkan tawarannya dengan cara berpura-pura menawar harga di atas penawaran pembeli.

[13] . Yusuf Al Qardlawi, Daurul Qiyam (Op Cit) Hal. 304-314.

[14] . sebagaimana pesan Al Qur’an dalam surah Al Nuur: 37

[15] . An Nawawi, Riyadlush Shalihin, Hadits ke 1842.

About muhammadunaslam

Temen-temenku bilang aku adalah orang yang istimewa, namun aku merasakan aku hanyalah manusia biasa ...sama seperti mereka

Posted on Juni 21, 2010, in Kajian Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: